Kamis, 28 April 2016

Keindahan menyakitkan

Hangatnya sinar mentari mengawali hariku yang ku harap akan berjalan dengan indah. Langkahku mengawali cerita ini. Satu demi satu kakiku melangkah, melangkah menuju perantara tujuanku. Kehadiranku yang telah ditunggu oleh seorang yang sangatlah spesial dimataku. Semakin mendekat dan mendekat, dia menyapaku, menggegamku, dan mulai berbicara padaku.

"Pagi, mungkin hari ini kamu masih kesal padaku, mungkin hari ini kamu tak ingin melihatku, tapi maafkanlah aku, aku hanya ingin merasakan keindahan dunia ini, aku hanya ingin menikmatinya" dia memulai perbincangan yang sungguh membuatku ingin meneteskan air mata.

"Menikmatinya tanpa aku disampingmu? menikmatinya tanpa kau memikirkan bangaimana perasaanku" balas aku sambil melepas genggamannya.

Ya benar kita sepasang kekasih yang sedang diberikan masalah, masalah yang sangat menyayat hati ini.

Beberapa hari lalu, tepat saat liburan sekolah aku merencanakan berbagai hal yang menurutku menyenangkan. Tentu saja rencana ini akan berhasil jika aku bersamanya. Rencana yang memang sangat aku inginkan semenjak awal aku dekat dengannya. Aku tak memiliki banyak teman, dan aku tidak selalu bisa bermain keluar. Rencanaku ini, aku ingin bermain bersama dengannya juga teman-temannya. Sejak awal aku bertemu dengannya aku ingin sekali menjadi salah satu temannya. Namun, takdirku ternyata menjadi kekasihnya. Permintaanku ini belum pernah dia wujudkan. Padahal permintaanku hanya aku ingin berteman dengan temannya, aku ingin bermain bersamanya, juga aku ingin hadir sebagai kekasihnya.

Suatu hari aku bertanya padanya..
"Bolehkah aku ikut bermain dengan kamu dan teman-temanmu?"
"Boleh kita cari waktu yang tepat" jawabnya dengan lembut.

Kelembutan suaranya itu menghipnotisku hingga aku sungguh percaya padanya. Aku menunggu terus menunggu kapan waktu itu kan datang. Namun terlintas dalam fikiranku, akankah aku bisa mengikutinya? akankah aku sanggup bermain dengan mereka? akankah mereka menghargaiku?. Kita memang memiliki hobi yang sangat bertolak belakang. Dia seorang pencinta alam yang sangat menyukai petualangan alam. Namun, aku hanyalah gadis manja yang jarang pergi ke tempat jauh seperti itu tanpa orang tuaku. Aku mulai bingung dan juga resah. Rencanaku mulai goyah.

Di pagi hari, aku pergi keluar dengannya membeli semangkuk bubur untuk kami sarapan. Dipertengahan sarapan aku membuka mulutku dan bertanya padanya.
"Bagaimana rencanamu dengan teman-temanmu? aku merasa akan canggung bila aku bertemu dengan mereka" tanyaku.
"Rencananya hari ini aku akan pergi ke air terjun dekat sini bersama teman-temanku" jawabnya.
Sesaat hatiku berhenti berdegup dan aku berfikir, mengapa dia tak bercerita padaku tentang rencana ini? mengapa begitu tiba-tiba? dan mengapa hati ini terasa sakit saat mendengar rencananya?. Aku terdiam dan tak bisa berkata apa-apa, yang aku ingin ucapkan saat itu hanyalah "Jangan pergi, atau ajaklah aku". Tapi sulit mulut ini terbuka dan berkata seperti itu. Hingga tepat saat dia akan pergi aku mulai membuka mulut ini.
Dua hari dia pergi. Aku benar-benar tak tahu apa saja yang dia lakukan. Bahkan temannya saja tidak memberitahuku apalagi mengajaku. Disana aku merasa aku bukan siapa-siapanya. Temannya bukan hanya pria, namun juga wanita. Itulah yang membuat hati ini perih.

Akhirnya dia pulang, aku langsung menemuinya. Aku berbicara dengannya. Aku menyatakan semuanya.
"Aku pergi bukan untuk menyakitimu, aku ingin melihat keindahan dunia"
"Tanpa kamu sadari aku tersakiti memikirkanmu pergi dengan wanita lain"
"Sayang, dia temanku.. kamulah satu-satunya yang ada di hatiku"
Saat itu aku merasa baik mendengar perkataanya. Namun semua itu berubah saat aku melihat foto di handphonenya. Dia berfoto berdekatan dengan seorang wanita. Aku tahu dia bukan temannya, dia orang asing,  diaa adalah seorang wanita yang menggangguku.
"Kamu pergi dengannya?"
"Iiyyaa, maaf aku ga tau kalo dia ikut"
"Ga tau? ko bisa ya sampe difoto kaya gini? bukannya aku udah bilang jangan bersamanya!"
Lalu aku pun pergi dan bertanya pada seorang temannya. Disana bukannya dia membelaku tapi malah menjatuhkan aku.
"Iya dia ikut, lagian ga ada kamu juga kan? yaudahlah mereka cocok ko"

Sakit sungguh sakit, mengapa orang-orang yang aku fikir mereka sangat baik pada kenyataan mereka sejahat itu. Sungguh ingin mati rasanya mendengar perkataan itu. Dia pun mengirimkan pesan padaku.
"Aku hanya ingin melihat keindahan dunia ini, kamu memang tidak tahu bagaimana indahnya, aku mengambil gambar itu untuk melihatkan padamu suasana disana seindah apa."
Bukankah keindahan itu mendatangkan kebahagiaan bagi yang melihatnya? Tapi mengapa keindahan ini mengantarkanku pada rasa sakit yang sangat dalam. Bukankah dengan menikmati udara dan menghirupnya agar kita bisa hidup adalah keindahan hidup kita yang teramat besar dari Tuhan kita? Apakah harus kita menikmati keindahan dengan menyebarkan kesakitan pada orang lain? Dan kini ku tahu, tak semua keindahan menyenangkan, namun keindahan juga menyakitkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar